Minggu, 14 Agustus 2016

si padang

Padang kota yang mempunyai masakan khas yang sangat populer yaitu "nasi padang" mempunyai sejarah yang sangat menarik bagi saya.

siapa yang tak kenal dengan suku minang? salah satu suku yang terkenal dengan cerita rakyatnya yang melegenda di tanah air kita. dan juga kota yang surga dunia dalam hal cita rasa makanannya. rasa makanan sumatera barat yang penuh dengan rempah-rempah menandakan kekayaan alam nya yang melimpah, dan ternyata asal muasal banyak makanan sumatera barat yang berasal dari jazirah dan kemudian dikembangkan sesuai dengan cita rasa masyarakat sumatera barat. wah pengen nasi padang 




suku minang berada di sumatera barat sebagai salah satu provinsi yang terletak di sepanjang pesisir pulau sumatera. sumatera barat memang dominan di huni masyarakat beretnis minang,karena itu wajar sumatera barat dikenal lewat suku minangkabau.

awal mulanya minangkabau 

bermula pada masa kerajaan adityawarman,tokoh penting minangkabau yang tak pernah mau di sebut sebagai raja. adityawarman lah yang bejasa memberi sumbangsih (sokongan,bantuan) bagi alam minangkabau. beliau juga yang pertama kali mengenalkan sistem kerajaan di sumatera barat. pada pertengahan abad ke-17 provinsi ini lebih terbuka dengan dunia luar khusunya Aceh. hubungan yang semakin intensif dengan aceh memalui perekonomian, akhirnya muncullah nilai baru yang berkembang yang menjadi landasan sosial budaya masyarakat sumatera barat, yaitu Agama islam. semakin berlalunya waktu, agama islam semakin mendominasi masyarakat minangkabau yang sebelumnya di dominasi agama budha. 

Disana ada sebuah desa yang berada di kawasan kecamatan sungayang,tanah datar, sumatera barat. desa tersebut awalnya tanah lapang, namun adanya isu bahwa kerajaan pagaruyung akan di serang kerajaan majapahit. maka terjadilah adu kerbau atas usul kedua belah pihak. kerbau tersebut mewakili peperangan kedua kerjaan. karena minang lah yang menjadi pemenangnya maka muncullah kata MANANG KABAU, manang yang berarti menang dan kabau itu kerbau. dan kemudian nama itu dijadikan nama nagari atau desa tersebut. upaya setempat mengenang peristiwa bersejarah tersebut, penduduk pagaruyung mendirikan sebuah rumah loteng (rangkiang) atau biasa dikenal rumah gadang, dimana atapnya mengikuti bentuk tanduk kerbau yang terbuat dari ijuk. dan rumah gadang diperuntukkan untuk wanita jika pria yang sudah aqil baliq diwajibkan tidur di luar rumah dan biasanya mereka  tidur surau .

asal-usulnya rumah tersebut didirikan di batas bertemunya pasukan majapahit yang di jamu dengan hormat oleh wanita cantik pagaruyung. semakin lama situasi mulai berkembang yang awalnya hanya bertani sawah,hasil hutan dan mulai berkembang dengan menjamah pertambangan emas. transportasi utama untuk menulusuri dataran tinggi minangkabau adalah kerbau. alasan menggunakan kerbau adalah karena agama yang dipercaya pada waktu itu di ajarkan untuk menyayangi binatang gajah,kerbau,dan lembu. 

jatuhnya kerajaan pagaruyung dan terlibatnya negara belanda di perang padri, menjadikan daerah pedalaman minangkabau menjadi bagian dari pax nederlandica oleh pemerintahan hindia belanda.
pada zaman VOC, Hoofdcomptoir van sumatra's westkust, adalah nama dari pesisir sumatera barat. 
semakin lama mengikuti perkembangan administratif pemerintahan belanda, banyak kawasan yang berubah dan banyak kawasan yang di ekspansi. dan di masa ini terjadi perang padri (1821-1837) yang cukup dikenal hingga sekarang ini.



Pada abad ke-19 islam berkembang pesat di daerah minangkabau.tokoh tokoh islam berusaha menjalankan ajaran islam sesuai al-quran dan hadis. Gerakan mereka kemudian dinamakan gerakan padre. Gerakan ini bertujuan untuk memperbaiki masyarakat minangkabau dan mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran islam.gerakan ini mendapat sambutan baik dikalangan ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat.
umum terjadi perang padri adalah
a)     Pertentangan antara kaum padri dan kaum adat.
b)    Belanda membantu kaum adat.
Perang pertama antara kaum padre dan kaum adat terjadi di kota lawas, kemudian meluas ke kota lain. Pemimpin kaumpadri antara lain dato’ bandaro,tuanku nak cerdik,tuanku nan renceh, dato’malim basa (imam bonjol). Adapun kaum adat dipimpin oleh dato’sati . pada perang tersebut kaum adat terdesak, kemudian meminta bantuan kepada belanda. Perang yang terjadi dapat dibagi menjadi dua tahap.
A)    tahap pertama (1821-1825)
Pada tahap ini, peperangan terjadi antara kaum padre dan kaum adat yang dibantu oleh belanda. Menghadapi belanda yang bersenjata lengkap,kaum padri menggunakan siasat gerilya.medudukan belanda makin sulit, kemudian membujuk kaum padri untuk berdamai. Pada tanggal 15 nopember 1825 di padang diadakan perjanjian perdamaian dan dan tentara belanda ditarik dari Sumatra dan dipusatkan untuk menumpas perlawanan diponegoro di jawa.
B)    tahap kedua(1830-1837)
Setelah perang di ponerogo selesai , belanda mulai melanggar perjanjian dan perang padri berkobar kembali. Pada perang ini,kaum padri dan kaum adat bersatu melawan belanda.
Mula-mula kaum padri mendapat banyak kemenangan. Pada tahun 1834 belanda mengerahkan pasukan untuk menggempur pusat pertahanan kaum padri di bonjol.   Pada tanggal 25 oktober 1837, tuanku imam bonjol tertangkap ,kemudian diasingkan di minahasa sampai wafatnya. Dengan menyerahnya imam bonjol bukan berarti perang selesai,perang tetap berlanjut walaupun tidak lagi mengganggu  usaha belanda untuk menguasai minangkabau.
selanjutnya masa pendudukan jepang Hoofdcomptoir van sumatra's westkust/ residen sumatera's westkust berganti dengan bahasa jepang, yaitu Sumatora Nishi Kaigan Shu . dan gubernur sumatera barat yang berdarah jepang bernama Yano Kenzo membuat pengakuan

"...Minangkabau di Sumatra, yang berada di bawah yurisdiksi saya..., tampaknya sebuah suku yang paling cerdas dan maju di bidang ekonomi di antara suku-suku yang ada; dan kepedulian politik mereka pun mengagumkan. Jadi, tidak mengherankan kalau mereka ini mempunyai keinginan yang kuat untuk mengakhiri tahun penindasan Belanda, dan meraih kemerdekaan penuh. Yakin bahwa tentara pendudukan Jepang akan membantu tercapainya impian jangka panjang mereka, mereka mau bekerja sama. Tetapi, setelah pendudukan berlangsung selama dua tahun, tak kunjung ada perubahan."



— Yano Kenzo


berdasarkan keputusan gubernur sumatera barat tahun 1958, ibukota sumatera barat yang dulunya bukittinggi kemudian dipindahkan ke padang. saat ini sumatera barat/minangkabau terdiri dari 19 kota dan kabupaten, yang di setiap daerahnya mempunyai khas masing-masing. namun, minangkabau tetap pada pepatahnya " Adaik basandi syarak,syarak basandi kitabullah" atau "Adat yang didasari oleh hukum islam, dan mengacu pada kitabullah" 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar