Padang kota yang mempunyai
masakan khas yang sangat populer yaitu "nasi padang" mempunyai
sejarah yang sangat menarik bagi saya.
siapa
yang tak kenal dengan suku minang? salah satu suku yang terkenal dengan cerita
rakyatnya yang melegenda di tanah air kita. dan juga kota yang surga dunia dalam hal cita rasa makanannya. rasa makanan sumatera barat yang penuh dengan rempah-rempah menandakan kekayaan alam nya yang melimpah, dan ternyata asal muasal banyak makanan sumatera barat yang berasal dari jazirah dan kemudian dikembangkan sesuai dengan cita rasa masyarakat sumatera barat. wah pengen nasi padang
suku minang berada di sumatera
barat sebagai salah satu provinsi yang terletak di sepanjang pesisir pulau
sumatera. sumatera barat memang dominan di huni masyarakat beretnis
minang,karena itu wajar sumatera barat dikenal lewat suku minangkabau.
awal
mulanya minangkabau
bermula pada masa kerajaan adityawarman,tokoh penting minangkabau yang tak pernah mau
di sebut sebagai raja. adityawarman lah yang bejasa memberi sumbangsih
(sokongan,bantuan) bagi alam minangkabau. beliau juga yang pertama kali
mengenalkan sistem kerajaan di sumatera barat. pada pertengahan abad ke-17
provinsi ini lebih terbuka dengan dunia luar khusunya Aceh. hubungan yang
semakin intensif dengan aceh memalui perekonomian, akhirnya muncullah nilai
baru yang berkembang yang menjadi landasan sosial budaya masyarakat sumatera
barat, yaitu Agama islam. semakin berlalunya waktu, agama islam semakin
mendominasi masyarakat minangkabau yang sebelumnya di dominasi agama
budha.
Disana
ada sebuah desa yang berada di kawasan kecamatan sungayang,tanah datar,
sumatera barat. desa tersebut awalnya tanah lapang, namun adanya isu bahwa
kerajaan pagaruyung akan di serang kerajaan majapahit. maka terjadilah adu
kerbau atas usul kedua belah pihak. kerbau tersebut mewakili peperangan kedua
kerjaan. karena minang lah yang menjadi pemenangnya maka muncullah kata MANANG
KABAU, manang yang berarti menang dan kabau itu kerbau. dan kemudian nama itu
dijadikan nama nagari atau desa tersebut. upaya setempat mengenang peristiwa
bersejarah tersebut, penduduk pagaruyung mendirikan sebuah rumah loteng
(rangkiang) atau biasa dikenal rumah gadang, dimana atapnya mengikuti bentuk
tanduk kerbau yang terbuat dari ijuk. dan rumah gadang diperuntukkan untuk
wanita jika pria yang sudah aqil baliq diwajibkan tidur di luar
rumah dan biasanya mereka tidur surau .
asal-usulnya rumah tersebut didirikan di batas bertemunya
pasukan majapahit yang di jamu dengan hormat oleh wanita cantik pagaruyung.
semakin lama situasi mulai berkembang yang awalnya hanya bertani sawah,hasil
hutan dan mulai berkembang dengan menjamah pertambangan emas. transportasi
utama untuk menulusuri dataran tinggi minangkabau adalah kerbau. alasan
menggunakan kerbau adalah karena agama yang dipercaya pada waktu itu di ajarkan
untuk menyayangi binatang gajah,kerbau,dan lembu.
jatuhnya
kerajaan pagaruyung dan terlibatnya negara belanda di perang padri, menjadikan
daerah pedalaman minangkabau menjadi bagian dari pax nederlandica oleh
pemerintahan hindia belanda.
pada
zaman VOC, Hoofdcomptoir van sumatra's westkust, adalah nama dari pesisir
sumatera barat.
semakin
lama mengikuti perkembangan administratif pemerintahan belanda, banyak kawasan
yang berubah dan banyak kawasan yang di ekspansi. dan di masa ini terjadi
perang padri (1821-1837) yang cukup dikenal hingga sekarang ini.
Pada abad
ke-19 islam berkembang pesat di daerah minangkabau.tokoh tokoh
islam berusaha menjalankan ajaran islam sesuai al-quran dan hadis. Gerakan
mereka kemudian dinamakan gerakan padre. Gerakan ini bertujuan untuk
memperbaiki masyarakat minangkabau dan mengembalikan mereka agar sesuai dengan
ajaran islam.gerakan ini mendapat sambutan baik dikalangan ulama, tetapi
mendapat pertentangan dari kaum adat.
umum
terjadi perang padri adalah
a) Pertentangan antara kaum padri
dan kaum adat.
b) Belanda membantu kaum adat.
Perang pertama antara kaum padre dan kaum adat terjadi di
kota lawas, kemudian meluas ke kota lain. Pemimpin kaumpadri antara lain dato’
bandaro,tuanku nak cerdik,tuanku nan renceh, dato’malim basa (imam bonjol).
Adapun kaum adat dipimpin oleh dato’sati . pada perang tersebut kaum adat
terdesak, kemudian meminta bantuan kepada belanda. Perang yang terjadi dapat
dibagi menjadi dua tahap.
A)
tahap pertama (1821-1825)
Pada tahap ini, peperangan terjadi antara kaum padre dan
kaum adat yang dibantu oleh belanda. Menghadapi belanda yang bersenjata
lengkap,kaum padri menggunakan siasat gerilya.medudukan belanda makin sulit, kemudian membujuk kaum padri untuk berdamai. Pada tanggal 15 nopember 1825 di
padang diadakan perjanjian perdamaian dan dan tentara belanda ditarik dari
Sumatra dan dipusatkan untuk menumpas perlawanan diponegoro di jawa.
B)
tahap kedua(1830-1837)
Setelah perang di ponerogo selesai , belanda mulai
melanggar perjanjian dan perang padri berkobar kembali. Pada
perang ini,kaum padri dan kaum adat bersatu melawan belanda.
Mula-mula kaum padri mendapat banyak kemenangan. Pada tahun
1834 belanda mengerahkan pasukan untuk menggempur pusat pertahanan kaum padri
di bonjol. Pada tanggal 25 oktober 1837, tuanku imam bonjol
tertangkap ,kemudian diasingkan di minahasa sampai wafatnya. Dengan
menyerahnya imam bonjol bukan berarti perang selesai,perang tetap berlanjut
walaupun tidak lagi mengganggu usaha belanda untuk menguasai minangkabau.
selanjutnya masa pendudukan jepang Hoofdcomptoir van
sumatra's westkust/ residen sumatera's westkust berganti dengan bahasa jepang,
yaitu Sumatora Nishi Kaigan Shu . dan gubernur sumatera barat yang berdarah
jepang bernama Yano Kenzo membuat pengakuan
"...Minangkabau di Sumatra, yang berada di bawah yurisdiksi
saya..., tampaknya sebuah suku yang paling cerdas dan maju di bidang ekonomi di
antara suku-suku yang ada; dan kepedulian politik mereka pun mengagumkan. Jadi,
tidak mengherankan kalau mereka ini mempunyai keinginan yang kuat untuk mengakhiri
tahun penindasan Belanda, dan meraih kemerdekaan penuh. Yakin bahwa tentara
pendudukan Jepang akan membantu tercapainya impian jangka panjang mereka,
mereka mau bekerja sama. Tetapi, setelah pendudukan berlangsung selama dua
tahun, tak kunjung ada perubahan."
— Yano Kenzo
berdasarkan keputusan gubernur sumatera barat tahun 1958,
ibukota sumatera barat yang dulunya bukittinggi kemudian dipindahkan ke padang.
saat ini sumatera barat/minangkabau terdiri dari 19 kota dan kabupaten, yang di
setiap daerahnya mempunyai khas masing-masing. namun, minangkabau tetap pada
pepatahnya " Adaik basandi syarak,syarak basandi kitabullah" atau
"Adat yang didasari oleh hukum islam, dan mengacu pada
kitabullah"





Tidak ada komentar:
Posting Komentar